Peran Orang Indonesia dalam Syiar Islam Khususnya di Bangkok

Peran Orang Indonesia dalam Syiar Islam Khususnya di Bangkok

Bila ada kesempatan berjalan ke Bangkok, Thailand, tidak lengkap apabila kita tidak menyempatkan diri  untuk mampir di Kampung Jawa yang merupakan komunitas Jawa di Bangkok yang ditandai dengan sebuah bangunan masjid Jawa berasitektur jawa berbentuk joglo. Konon, masjid Jawa didirikan diatas tanah Haji Mohammad Saleh yang diwakafkan pada tahun 1894.  Sejak itu masyarakat Jawa di Bangkok secara swadaya dan bergotong royong mendirikan masjid. Masjid ini telah mengalami pemugaran sebanyak 2 (dua) kali yakni pada tahun 1927 dan tahun 1975 namun tidak merubah bentuk aslinya terutama pada bagian balai. Keunikan masjid ini berbeda dengan masjid-masjid lain di Thailand yakni adanya bedug dan bentuk bangunan joglo mencirikan kekhasan Jawa.  Disamping masjid yang dipisahkan sebuah jalan kecil terdapat pemakaman muslim yang sebagian besar orang-orang turunan Jawa atau Indonesia dimakamkan di pemakaman ini. Imam besar Masjid Jawa telah mengalami beberapa pergantian seiring perjalanan waktu dan tiidak semuanya adalah keturunan Jawa dan telah bercampur dengan mereka yang turunan Melayu yang konon merupakan warga asli di wilayah tersebut.

Warga keturunan Jawa  yang mengetahui silsilah kampung dan masjid ini sudah semakin sedikit yang saat ini sudah keturunan ketiga yang rata-rata sudah berusia diatas 80 tahun. Kendatipun demikian, warga masyarakat turunan Jawa berusaha untuk melestarikan budaya dan adat istiadat yang sudah diwariskan leluhurnya sebagaimana terlihat dari jenis-jenis makanan yang dijual di sekitar masjid seperti dadar gulung, lupis, sate, dll. Terutama sekali dalam usaha-usaha untuk memakmurkan masjid Jawa yang boleh dikatakan sebagai simbol pemersatu warga keturunan Jawa.

Berbicara tentang masjid Jawa, tentu tidak lengkap bila dikaitkan dengan peran orang-orang Jawa dalam syiar Islam sekaligus membina hubungan dagang dengan Siam pada waktu itu.  Disamping masjid Jawa, sejumlah masjid di Bangkok tercatat telah didirikan oleh orang-orang Jawa seperti  Masjid Bayan (didirikan tahun 1911), Masjid Darul Abidin (didirikan tahun 1945), Masjid Ban-U (didirikan tahun 1919), Masjid Harun (terdaftar 1947) dan Masjid Indonesia (terdaftar 1949). Letak-letak masjid tersebut berada di bilangan Sathorn Road dan Bangrak dengan radius 2-4 kilometer, sebuah kawasan bisnis dimana terdapat hotel-hotel mewah yang berada di tepian Sungai Chao Phraya.  Adapun berdasarkan penuturan orang Jawa di Bangkok tidak hanya tinggal di satu kawasan saja di daerah tersebut namun juga menyebar di daerah-daerah lain termasuk di tengah kota Bangkok. 

Terkait hal tersebut,  peran orang-orang Jawa dalam syiar Islam sekaligus membina hubungan dagang dengan Siam pada wakti itu merupakan keniscayaan. Meski tidak tercatat dalam prasasti adanya peran orang bugis dan orang minangkabau dalam syiar Islam di Thailand, sebagaimana ada masjid Makasan (dari kata Makasar) dan dakwah Islam yang dilakukan kelompok ulama Minangkabau /Kelompok Paderi. Salah satu pesantren berpangaruh di Satun, Thailand Selatan, bernama Sekolah Darul Ma’arif didirikan oleh ulama Minangkabau dan berdiri sampai sekarang. Konon beberapa masjid di Bangkok juga mendapat pengaruh dari ulama Minangkabau seperti Mesjid Al-Atiq di Charoenkrung Road. 

Melihat kebelakang asal-usul masuknya orang Jawa dan keturunan Indonesia di Thailand khususnya Bangkok dapat dibedakan dalam 4 (empat) golongan yakni golongan pelarian politik zaman penjajahan Belanda, golongan pedagang dan pengungsi karena bencana gunung meletus, golongan yang dibawa oleh Raja Rama V (Raja Chulalongkorn) yang memerintah Thailand tahun 1868-1910, dan golongan yang dibawa tentara Jepang sebagai Heiho dan Romusha. Berdasarkan catatan resmi tahun 1957 jumlah mereka tercatat 1.740 yang kemudian tidak sedikit yang berpindah sebagai warga negara Thailand karena perkawinan. Saat ini warga keturunan dari golongan-golongan ini sebagian besar sudah tidak lagi warga negara Indonesia namun ada satu orang, Haji Saleh bin  Ali, (saat tulisan ini ditulis 2011 berusia 84 tahun) masih memegang paspor Belanda memilih tidak berstatus (stateless) sebagai wujud kecintaannya sebagai orang jawa seratus persen.

Yang menarik adalah warga keturunan Jawa yang dibawa oleh Raja Siam, Raja Rama V, dimana pada saat pemerintahan beliau sebanyak 3 kali mengunjungi Jawa yakni tahun 1871, 1896 dan 1901.  Pada saat kunjungan tersebut telah membawa sejumlah orang Jawa untuk mendampingi seorang insinyur Belanda, Allenbus, dimana orang-orang Jawa yang dibawa tersebut berasal dari Kendal, Jawa Tengah, yang turun-turunannya saat ini menempati Kampung Jawa di Bangkok.  Mereka didatangkan di Bangkok untuk membantu pembangunan jalan dan pembuatan taman-taman istana di Bangkok. Sampai saat ini hasil kerja mereka masih dapat dinikmati sebagaimana terlihat adanya taman Lumphini, pohon-phon asam yang ditanam di sepanjang jalan Rachadamnoen dan di sekitar lapangan Sanam Luang. Orang Jawa pada waktu itu dikenal sebagai bangsa yang jujur dan rajin bekerja terutama kepandaiannya dalam bercocok tanam (pertanian). Keadaan inilah yang sebetulnya menjadi salah satu dasar mengapa para pembesar Siam diwaktu itu memiliki kedekatan dengan bangsawan dari Kesuhunan Solo dan Kesultanan Yogyakarta.

Hubungan dan kontak antara masyarakat kedua negara juga dapat dibuktikan dengan peninggalan manuskrip kuno asal Indonesia yang disimpan di sebuah museum milik Sekolah Ahmadiyah Islamiyah atau Samanmitr Wittaya School di Narathiwat. Lebih dari 30% koleksi manuskrip di museum tersebut berasal dari Indonesia antara lain Al-Quran dan Kitab-kitab yang bertuliskan bahasa arab dan bahasa Jawa Kuno. Salah satu Al-Quran kuno asal Indonesia adalah yang ditulis ahun 1634 oleh Syekh Nuruddin Moahammad Roniri seorang ulama Kerajaan Pasai. 

Berkenaan dengan aktivitas keagamaan di negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha, tampaknya umat Islam di Thailand terutama di Bangkok termasuk warga Kampung Jawa tidak menghadapi kendala apapun. Mereka mendapat kebebasan secara konstitusi untuk menjalankan ibadah tanpa tekanan apapun. Sikap solidaritas dan saling membantu juga terlihat dari kelompok agama lain dalam mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan masyarakat muslim di sekitar masjid.

Meningkatnya people-to-people contact antara kedua negara telah meningkatkan pula pertukaran budaya antara masyarakat kedua negara. Terlepas dari masalah agama, kemiripan sosial budaya antara Indonesia (Jawa) dan Thailand juga telah menjadi jembatan yang baik untuk mendekatkan hubungan  kedua negara sebagai contoh sejumlah dongeng dan cerita wayang memiliki kemiripan seperti cerita panji semirang dan Ramayana serta banyak lagi. Hal ini  kiranya dapat menjadi nuansa kedekatan sekaligus aset bagi pemerintah Indonesia dalam menapaki diplomasi publik melalui people-to-people contact dimasa-masa mendatang.

*Catatan oleh Sulaiman Narowi (diperbaharui 2020) diambil dari beberapa sumber data : buku The Javanese in Bangkok oleh Ajarn Kannikar Juthamas Sumali (1998) dan catatan-catatan pribadi yang dibuat oleh Alm. Endang Suriapi (mantan Heiho di Bangkok/mantan Fotografer KBRI Bangkok, wafat 2006). Catatan ini juga pernah dikutip dalam buku  “Selayang Pandang Hubungan Bilateral Indonesia – Thailand” oleh KBRI Bangkok (2020).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.